Tahun ini adalah tahun yang mengharuskan aku berdiri sendiri menentukan masa depan ku sendiri.
Tahun dimana tahun yang seharusnya aku sudah menjadi tulang punggung bagi ku sendiri.
2017...
Telah genap 23 tahun aku terlahir ke dunia ini. Usia yang tak muda lagi. Usia yang sudah matang untuk menjalani hidupku sendiri. Entah mengapa untuk saat ini aku tak sedikitpun memikirkan akan menjalani kehidupanku bersama seseorang yang akan menemaniku seumur hidupku. Tapi aku memilih untuk mengejar karirku demi untuk membahagiakan orang yang telah 23 tahun membahagiakanku. Aku memahami kesulitan yang mereka hadapi sejak aku belum mengenal dunia ini. Mereka berusaha keras mencukupi kebutuhan ku walau tak sedikit yang harus mereka keluarkan untuk menyekolahkan aku di sekolah yang berfasilitas di atas rata-rata. Tanpa mengeluh mereka terus mengeluarkan biaya yang dibilang tidak sedikit itu hanya untuk aku bisa menikmati kehidupan yang lebih baik dari kehidupan yang mereka jalani saat ini.
Memasuki bulan penuh cinta. Yes, you alright. Bulan Februari.
Bulan ini aku bekerja di perusahaan baru. Perusahaan yang bergerak di bidang properti. Tidak sulit untuk bisa masuk dan mulai menjalani rutinitas sebagai pekerja kantoran. Itung-itung flashback ke tahun 2012 dimana saat itu aku juga pernah bekerja di perusahaan properti. Untuk jobdesk sendiri, aku tergolong bingung karena deskripsi jobdeskku berantakan. Intinya aku sebagai kepala admin dan keuangan. Sebenernya posisi ini sudah tergolong nyaman kan, cuman gajinya yang mengharuskan aku untuk masih tetap mencari pekerjaan pengganti.
Memasuki Bulan Maret.
Pada bulan ini, aku diharuskan membawa orang untuk mampu membeli properti yang kami pasarkan. Wah, aku pikir ini bukan tugasku lagi. Tetapi pegawai hanyalah pegawai dan boss adalah boss. Oke mulailah aku memasarkan properti milik perusahaan kami. Berkat usaha dan kegigihanku memasarkan ada beberapa yang minat untuk mengetahui spesifikasi lebih detail. Aku sangat senang, karena si boss telah menjanjikan iming-iming yang cukup fantastis jika pegawainya dapat memasarkan propertinya.
Disaat aku mulai menekuni pekerjaanku saat ini, yaitu memasarkan properti, tingkah dan gerak-gerik si boss terlihat sangat aneh. Beliau lebih jarang ke kantor dan susah dihubungi ketika berada di luar kantor sehingga kita sebagai karyawan-karyawannya sangat takut akan hal-hal yang ada di kepala kita. Sedangkan pemasaran properti dibilang sangat menjadi tranding topik dikalangan pengusaha bahkan masyarakat mengengah ke bawah dikarenakan harganya terbilang murah. Kita sebagai karyawan hampir tidak bisa menjawab manakala ada calon pembeli yang ingin bertanya lebih detail. Memang kita memasarkan properti dengan spesifikasi yang kami ketahui saja, selebihnya bisa langsung kita arahkan ke si boss. Tetapi untuk saat ini kan si boss lagi sulit dihubungi semenjak ada pembeli yang bayar DP sekitar Rp. 70jt, berarti yang dikejar oleh calon pembeli adalah marketingnya, yaitu kita semua yang ada di kantor yang dijadikan marketing dadakan. Dan lebih parahnya lagi kita tidak diajarkan memasarkan properti dengan spesifiakasi yang benar. Aku dan teman-teman semakin bertanya-tanya tentang keberadaan boss kami yang menghilang bak ditelan bumi.
Suatu ketika setelah beberapa hari beralasan sakit dan luar kota akhirnya si boss datang ke kantor dengan membuat jani dengan banyak orang. orang-orang pun berdatangan ke kantor entah itu semua orang siapa, darimana, dan keperluannya apa kok tiba-tiba masuk ke ruangan boss satu-per satu. Kami menerima cacian yang berbunyi, "kurang tanggap, kurang cepat, lambat" dan lain sebagainya saat melayani dokumen-dokumen yang diminta si boss.
Sore harinya, kita diminta pulang kantor lebih cepat dari biasanya yaitu pukul 16.00 yang maju sejam dari biasanya. Tanpa pikir panjang kita berempat setuju dan cepat berkemas menuju rumah masing-masing. Keesokan harinya, tiba-tiba kami mendapat kabar melalui pesan singkat yang berisi kantor ditutup dan kita semua diberhentikan dengan alasan masih belum ada pekerjaan yang bisa dikerjaan. Kita sebagai karyawan pun langsung saling menghubungi satu per satu menanyakan mengapa, ada apa ini. Yang terlebih menjadi beban adalah ketika kita diberhentikan sementara tanpa ada pesangon dan gaji yang kami terima belum keluar. Hati kami berempat semakin gundah ketika awal bulan saat dijanjikan turunnya gaji belum dipenuhi oleh si boss. Sampai akhirnya kami meminta bantuan polisi. Tetapi kita tidak mempunyai bukti yang kuat karena kita tidak mempunya kotrak kerja yang menjelaskan bahwa kita adalah karyawan dari perusahaan tersebut. Akhirnya kita pun mengambila jalan pintas sendiri, yakni mendatangi rumahnya. Disitu kami semakin kaget karena ternyata si boss hanya penghuni yang kotrak saja. Astagfirullah!! Pada hari pertama kami tidak mendapatkan apa-apa melainkan janji akan diberikannya gaji pada minggu depan. pada hari kedua si boss sudah tidak ada di rumah kontrakannya, yang tersisa hanyalah mobilnya yang disita oleh pemilik kontrakan dan pemilik kontrakan adalah orang yang mempunyai lahan yang selama ini kami pasarkan. Akhirnya yang bersedia membayar kita adalah pemilik kontrakan. Beruntung pemilik kontrakan memberi kita separuh dari gaji kita dikarenakan kasihan kepada kita. meskipun tidak seluruh gaji yang dibayar, kami sangat senang menerimanya. Beliau berkata jika kurangan dari gaji akan beliau transfer paling lambat 3hari dari hani ini. Alhamdulillah senang dengarnya.
Memasuki bulan penuh cinta. Yes, you alright. Bulan Februari.
Bulan ini aku bekerja di perusahaan baru. Perusahaan yang bergerak di bidang properti. Tidak sulit untuk bisa masuk dan mulai menjalani rutinitas sebagai pekerja kantoran. Itung-itung flashback ke tahun 2012 dimana saat itu aku juga pernah bekerja di perusahaan properti. Untuk jobdesk sendiri, aku tergolong bingung karena deskripsi jobdeskku berantakan. Intinya aku sebagai kepala admin dan keuangan. Sebenernya posisi ini sudah tergolong nyaman kan, cuman gajinya yang mengharuskan aku untuk masih tetap mencari pekerjaan pengganti.
Memasuki Bulan Maret.
Pada bulan ini, aku diharuskan membawa orang untuk mampu membeli properti yang kami pasarkan. Wah, aku pikir ini bukan tugasku lagi. Tetapi pegawai hanyalah pegawai dan boss adalah boss. Oke mulailah aku memasarkan properti milik perusahaan kami. Berkat usaha dan kegigihanku memasarkan ada beberapa yang minat untuk mengetahui spesifikasi lebih detail. Aku sangat senang, karena si boss telah menjanjikan iming-iming yang cukup fantastis jika pegawainya dapat memasarkan propertinya.
Disaat aku mulai menekuni pekerjaanku saat ini, yaitu memasarkan properti, tingkah dan gerak-gerik si boss terlihat sangat aneh. Beliau lebih jarang ke kantor dan susah dihubungi ketika berada di luar kantor sehingga kita sebagai karyawan-karyawannya sangat takut akan hal-hal yang ada di kepala kita. Sedangkan pemasaran properti dibilang sangat menjadi tranding topik dikalangan pengusaha bahkan masyarakat mengengah ke bawah dikarenakan harganya terbilang murah. Kita sebagai karyawan hampir tidak bisa menjawab manakala ada calon pembeli yang ingin bertanya lebih detail. Memang kita memasarkan properti dengan spesifikasi yang kami ketahui saja, selebihnya bisa langsung kita arahkan ke si boss. Tetapi untuk saat ini kan si boss lagi sulit dihubungi semenjak ada pembeli yang bayar DP sekitar Rp. 70jt, berarti yang dikejar oleh calon pembeli adalah marketingnya, yaitu kita semua yang ada di kantor yang dijadikan marketing dadakan. Dan lebih parahnya lagi kita tidak diajarkan memasarkan properti dengan spesifiakasi yang benar. Aku dan teman-teman semakin bertanya-tanya tentang keberadaan boss kami yang menghilang bak ditelan bumi.
Suatu ketika setelah beberapa hari beralasan sakit dan luar kota akhirnya si boss datang ke kantor dengan membuat jani dengan banyak orang. orang-orang pun berdatangan ke kantor entah itu semua orang siapa, darimana, dan keperluannya apa kok tiba-tiba masuk ke ruangan boss satu-per satu. Kami menerima cacian yang berbunyi, "kurang tanggap, kurang cepat, lambat" dan lain sebagainya saat melayani dokumen-dokumen yang diminta si boss.
Sore harinya, kita diminta pulang kantor lebih cepat dari biasanya yaitu pukul 16.00 yang maju sejam dari biasanya. Tanpa pikir panjang kita berempat setuju dan cepat berkemas menuju rumah masing-masing. Keesokan harinya, tiba-tiba kami mendapat kabar melalui pesan singkat yang berisi kantor ditutup dan kita semua diberhentikan dengan alasan masih belum ada pekerjaan yang bisa dikerjaan. Kita sebagai karyawan pun langsung saling menghubungi satu per satu menanyakan mengapa, ada apa ini. Yang terlebih menjadi beban adalah ketika kita diberhentikan sementara tanpa ada pesangon dan gaji yang kami terima belum keluar. Hati kami berempat semakin gundah ketika awal bulan saat dijanjikan turunnya gaji belum dipenuhi oleh si boss. Sampai akhirnya kami meminta bantuan polisi. Tetapi kita tidak mempunyai bukti yang kuat karena kita tidak mempunya kotrak kerja yang menjelaskan bahwa kita adalah karyawan dari perusahaan tersebut. Akhirnya kita pun mengambila jalan pintas sendiri, yakni mendatangi rumahnya. Disitu kami semakin kaget karena ternyata si boss hanya penghuni yang kotrak saja. Astagfirullah!! Pada hari pertama kami tidak mendapatkan apa-apa melainkan janji akan diberikannya gaji pada minggu depan. pada hari kedua si boss sudah tidak ada di rumah kontrakannya, yang tersisa hanyalah mobilnya yang disita oleh pemilik kontrakan dan pemilik kontrakan adalah orang yang mempunyai lahan yang selama ini kami pasarkan. Akhirnya yang bersedia membayar kita adalah pemilik kontrakan. Beruntung pemilik kontrakan memberi kita separuh dari gaji kita dikarenakan kasihan kepada kita. meskipun tidak seluruh gaji yang dibayar, kami sangat senang menerimanya. Beliau berkata jika kurangan dari gaji akan beliau transfer paling lambat 3hari dari hani ini. Alhamdulillah senang dengarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar